BANJARMASIN (5/12) – Kota Banjarmasin, ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, kini menjadi salah satu kota metropolis yang berkembang pesat. Sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial di wilayah ini, Banjarmasin juga didukung oleh sejumlah kota satelit seperti Gambut, Handil Bakti, Kertak Hanyar, Alalak Utara, dan Banjarbaru. Peran kota-kota ini semakin penting dalam menopang pertumbuhan Banjarmasin yang semakin padat, baik dari segi jumlah penduduk maupun kendaraan. Namun, pesatnya urbanisasi ini membawa dampak signifikan terhadap infrastruktur kota, salah satunya adalah masalah genangan air yang terus berulang di Jalan A. Yani, salah satu jalur utama yang menghubungkan pusat kota dengan wilayah luar kota.
Jalan A. Yani, yang membentang dari pusat kota Banjarmasin menuju arah luar kota, sering kali menjadi saksi genangan air yang merendam sepanjang jalan, terutama saat hujan deras. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa, seiring dengan perkembangan kota dan penambahan jumlah kendaraan, kemacetan lalu lintas (lalin) juga kian tinggi. Tidak jarang, kendaraan yang melintas pada waktu hujan harus menghadapi situasi sulit, dengan genangan air yang membuat perjalanan semakin lambat dan rawan terjadinya kecelakaan.
Salah satu faktor penyebab utama terjadinya genangan air di Jalan A. Yani adalah sistem drainase yang kurang memadai. Drainase yang ada di jalur arah luar kota, tempat kendaraan keluar dari Banjarmasin menuju kota satelit, ternyata mengalami stagnasi aliran. Drainase ini tidak berfungsi optimal, bahkan cenderung tidak mengalirkan air ke sistem pembuangan dengan baik. Ketidakmampuan drainase untuk mengalirkan air hujan disebabkan oleh kondisi ketinggian jalan yang hampir sejajar dengan saluran drainase, menyebabkan air hujan hanya menggenang tanpa bisa mengalir dengan lancar.
Berlawanan dengan kondisi drainase yang berada di sisi jalan arah masuk kota, saluran drainase di sisi ini terlihat lebih fungsional. Aliran airnya lancar, dengan ketinggian drainase yang lebih rendah daripada permukaan jalan. Hal ini memungkinkan air hujan yang turun untuk segera mengalir ke saluran pembuangan dan tidak menimbulkan genangan.
Namun, kesenjangan kualitas drainase antara dua arah jalan ini menambah masalah baru bagi pengelolaan infrastruktur kota Banjarmasin. Genangan air yang terus terjadi saat hujan merupakan cerminan ketidakmampuan sistem drainase kota untuk mengakomodasi volume air yang datang dengan cepat. Ditambah dengan peningkatan jumlah kendaraan dari kota-kota satelit yang terus berdatangan, maka kepadatan lalu lintas dan terhambatnya aliran air menjadi masalah yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Penting untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase di Jalan A. Yani, khususnya di jalur arah luar kota. Salah satu solusinya adalah dengan melakukan perbaikan atau bahkan pembongkaran drainase lama untuk digantikan dengan saluran yang lebih besar dan mampu menampung air lebih banyak. Selain itu, diperlukan juga peningkatan kapasitas drainase yang dapat mengakomodasi air hujan yang lebih banyak, mengingat curah hujan yang semakin tinggi akibat perubahan iklim global.
Pembangunan infrastruktur drainase yang lebih baik, ditambah dengan pengelolaan lalu lintas yang lebih efisien, dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah genangan air yang terjadi secara berulang di Banjarmasin. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah kota, masyarakat, dan pihak-pihak terkait, kita dapat menciptakan Banjarmasin yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga nyaman dan aman untuk dihuni.
Kota Banjarmasin harus siap menghadapi tantangan baru ini, dengan mengedepankan perencanaan yang lebih matang dalam membangun infrastruktur yang berkelanjutan dan dapat menampung kebutuhan kota metropolis yang terus berkembang. Jika masalah genangan air ini dapat diatasi dengan tuntas, maka Banjarmasin akan semakin siap menjadi kota yang lebih tangguh menghadapi perubahan zaman.
Arhan Setya Hermansyah
